Hari Anak Sedunia 20 November 2020 & Dampak Covid

Pemerintah pun telah melakukan berbagai upaya dengan memberlakukan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah sebagai upaya memutus penyebaran virus corona. Selain itu, kini pemerintah membuat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang membatasi aktivitas sosial warga. Pada awal Maret 2020 lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika menyatakan gejala Covid-19 pada anak-anak tidak fatal seperti orang dewasa. Namun belakangan, mereka merevisi pernyataan tersebut dengan menyebut bahwa gejala anak yang terinfeksi virus corona mirip dengan kondisi Multisystem Inflamatory Syndrome in Children (MIS-C). Infeksi virus, seperti Covid-19 saat ini memiliki dampak yang cukup besar dan berisiko bagi tumbuh kembang anak. Sebagai orang tua, penting sekali untuk menjaga agar anak-anaknya tidak terinfeksi virus dengan menjaga daya tahan tubuh mereka agar tetap sehat.

Terus lakukan langkah-langkah perlindungan seperti menjaga jarak, menghindari pertemuan besar, mengenakan masker bagi anak di atas usia 2 tahun, dan sering mencuci tangan. Walau efek infeksinya ringan, namun anak-anak memegang peran kunci pada penyebaran virus di komunitas. Gabriel Scally, profesor tamu kesehatan masyarakat di Universitas Bristol, mendesak Pemerintah untuk mulai vaksinasi Covid-19 kepada anak di bawah 18 tahun untuk melindungi otak dan tubuh mereka yang “masih berkembang”.

KPAI menyebutkan presentase siswa yang tidak senang belajar di rumah sebanyak seventy six,7 persen dan 23,3 persen menyatakan senang dengan pembelajaran jarak jauh dari rumah. Wakil Representatif UNICEF di Indonesia Robert Gass, menyampaikan jumlah tersebut tidak termasuk seven hundred juta orang yang telah hidup dalam kemiskinan. Di sisi lain, lewat survei yang dilakukan UNICEF bersama UNDP dan Prospera, terungkap pandemi berdampak negatif terhadap keluarga dan anak-anak.

Pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik itu tidak selalu harus mengandalkan ruang – ruang kelas melalui guru yang secara resmi mengajar di sekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dari orang tua dan orang dewasa yang ada di rumah dan di sekitarnya . JAKARTA, AYOBANDUNG.COM — Sebuah survei terhadap anak-anak di Jerman menunjukkan bahwa pembatasan akibat pandemi virus corona berdampak pada kesehatan psychological mereka. Penelitian itu menunjukkan, dampak lebih besar terjadi terutama di antara anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dengan kondisi kesehatan yang baik ataupun dengan kondisi ekonomi yang cukup saja, pandemi Covid-19 memberikan dampak yang cukup besar bagi anak-anak, apalagi pada anak-anak dengan kondisi kesehatan yang terganggu dan kondisi ekonomi dan keluarga yang kurang beruntung. Anak-anak yang terinfeksi HIV, anak jalanan dan anak yang rentan terhadap risiko prostitusi mengalami dampak yang lebih sulit selama pandemi ini.

Ini berarti, penyakit yang disebabkan virus SARS-Cov-2 ini dapat menular dengan cepat dan menginfeksi banyak orang. Hal ini diungkapkan Prof. Yudian saat memperingati Hari Anak Dunia sekaligus peluncuran produk Pembinaan Ideologi Pancasila berupa Pancamain Indonesia. Menurutnya perayaan untuk anak-anak ini seharusnya disambut dengan rasa penuh suka cita. Seorang Ibu menemani anaknya belajar di kantor desa menggunakan fasilitas web slot online terbaik gratis yang terhubung ke ponselnya. Yoga hanyalah salah satu dari sekian anak difabel yang merasakan dampak COVID-19. Beberapa anak, terutama yang masih membutuhkan intervensi seperti terapi dan pengobatan harus menunda dulu untuk mendapatkan terapi seperti yang terjadi pada Haikal, anak dengan hydrochephallus, warga Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto.

Pihak Inggris pun melaporkan infeksi virus corona pada anak di negaranya berpotensi meningkat akibat varian virus terbaru dari SARS-CoV-2. Selain kasus kekerasan yang dialami anak, angka Perkawinan Usia Anak juga meningkat. Kondisi ini terjadi karena tekanan ekonomi yang meningkat, tidak adanya rutinitas, paksaan dari orang tua, kehamilan di luar nikah.

“Dengan protokol ini diharapkan tidak ada anak yang telantar, mengalami kekerasan, eksploitasi, stigma dan pengucilan di lingkungan masyarakat. Rumah dibawah tanggung jawab ayah dan ibu mejadi tempat penanaman karakter yang kuat. Orang tua harus dapat memberikan rasa aman terhadap anak –anak agar mereka merasa dekat dan menjadikan orang tuanya sebagai function model yang pertama.

Dampak covid bagi anak-anak

“Dengan demikian, kami berpikir bahwa biologi penyakit entah bagaimana melibatkan respons imunitas yang tidak biasa terhadap virus,” katanya. Bagaimanapun Profesor Levin menegaskan “ada banyak yang harus dipelajari” mengenai reaksi tersebut yang baru diketahui dua hingga tiga pekan. Studi oleh University Medical Center Hamburg-Eppendorf menemukan sekitar satu dari tiga anak Jerman menderita kecemasan terkait pandemi, depresi, atau menunjukkan gejala psikosomatis atau stres seperti sakit kepala atau sakit perut. Anak-anak dan remaja dari keluarga miskin dan mereka yang berasal dari keluarga migran terkena dampak yang tidak proporsional.

Puluhan keluarga di four wilayah RW Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, terancam terisolasi akibat proyek pembangunan Tol Serpong-Balaraja. Mereka khawatir tidak lagi memiliki akses jalan setelah jalan bebas hambatan itu dibangun. “Kami merasa terhormat dapat bekerja sama dengan Kementerian Sosial, bersama-sama kita sudah mengimplementasikan 10 inisiatif dalam bentuk memperkuat kapasitas, pelatihan-pelatihan, juga analisis penelitian kebijakan dan menjangkau anak-anak kaum rentan,” tambahnya. Robert melanjutkan, hasil survei lainnya yakni 57 persen tidak memiliki web. “Ini merupakan kehilangan peluang untuk belajar ini harus ditangani,” tambahnya. Jika Si Kecil menunjukkan gejala flu dan mengalami demam, sebaiknya biarkan ia beristirahat di rumah.

Maka itu, efek pada coronavirus COVID-19 pada kelompok yang lebih berisiko perlu diwaspadai agar kondisi mereka tidak semakin parah. Akhir tahun 2019, coronavirus jenis baru ditemukan di Tiongkok dan gejala awal penyakit COVID-19 ini menyerang sistem pernapasan orang yang terinfeksi. Untuk menekan penyebaran Covid-19 Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi aktivitas sosial. Dimulai berkala dengan meliburkan sekolah dan membuat aturan learn from home, lalu work from home, dan kini membuat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang membatasi aktivitas sosial warga. CDC menyebut jika Covid-19 dapat lebih menular dan telah dikaitkan dengan banyak peristiwa penularan luar biasa dibanding flu.