Kementerian Perhubungan Republik Indonesia

Namun, infeksi virus Corona memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu vaksinasi. Tapi mengenai vaksinasi, Kemendagri melalui Sekretaris Jenderalnya, Muhammad Hudori, telah membekali pemerintah-pemerintah daerah dengan sedikitnya 6 wejangan untuk melanjutkan kesuksesan pemda mendukung vaksinasi. Keenam poin tersebut yakni; Pertama, Forkopimda yang kompak menjadi kunci dalam melakukan kontrol sosial terhadap masyarakat untuk mendukung vaksinasi. Kedua, Pemda dapat melakukan inovasi dan variasi untuk mempercepat pelaksanaan vaksinasi sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.

Akan tetapi, sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari WHO yang menyatakan vaksin flu dapat digunakan. Jika orang mendapatkan vaksin flu, risikonya munculnya gejala flu seperti demam dan batuk akan lebih sedikit dan mereka mungkin lebih jarang ke klinik kesehatan. Sementara itu, banyak orang yang mempertanyakan apakah vaksin flu dapat digunakan untuk mencegah COVID-19 mengingat sama-sama menyerang sistem pernapasan. Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat. Ia mengajak masyarakat tidak perlu takut dan ragu untuk menerima vaksin Covid-19. “Untuk ASN dan masyarakat luas yang masih takut atau ragu dengan vaksinasi ini, tidak perlu ragu dan takut.

Vaksin dapat menangani Covid

Gunanya, kalau vaksin dari Gavi yang sifatnya free of charge diperoleh, maka Indonesia kita tidak perlu mengambil dari mereka. Namun, jika vaksin dari Gavi ini belum datang sesuai dengan jadwal yang diinginkan, maka pemerintah sudah mengamankan suplai dari perusahaan-perusahaan tersebut secara bilateral. Jika disisihkan penduduk dengan komorbid berat, mereka yang pernah positif COVID-19, dan ibu-ibu hamil yang masuk kategori eksklusi, maka jumlah yang menjadi goal vaksinasi adalah 181 juta warga.

Di sisi lain, Pemerintah juga aktif mengkampanyekan perilaku 3M guna memutus mata rantai penyebaran virus, yaitu Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak. Selain perilaku 3M, masyarakat diminta juga sadar diri untuk menghindari keramaian, tetap olahraga 30 menit setiap hari, konsumsi gizi seimbang, dan mengelola stress. Pemerintah menargetkan vaksin dari RRT dan Inggris dapat memenuhi cakupan minimal 70% populasi masyarakat Indonesia. Selain vaksin dari organisasi/aliansi internasional CEPI dan GAVI akan menjamin akses vaksin terhadap 20% populasi Indonesia, kesiapan vaksin Merah Putih yang diharapkan dapat mencakup one hundred% populasi Indonesia. Selain mekanisme kerja sama bilateral, dalam mencari sumber-sumber vaksin, Pemerintah juga menggandeng organisasi/aliansi internasional, yaitu Coalition for Epidemic Preparedness Innovations dan Global Alliance for Vaccine and Immunization . Di Indonesia sendiri, para Peneliti Indonesia juga sedang mengembangkan Vaksin Merah Putih dengan menggunakan strain virus Indonesia.

Kali ini menyasar pelayan publik, pegiat agama dan organisasi keagamaan berjumlah sekitar 300 orang di Rumah Sakit Umum St Antonius, Senin (29/3/2021). Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menerangkan, pihaknya terus memperluas program vaksinasi sesuai dengan tahapan yang ditetapkan. Vaksinasi yang dilaksanakan di RS St Antonius ini dalam rangka mempercepat vaksinasi bagi mereka yang sering kontak langsung dengan masyarakat. “Namun karena keterbatasan vaksin sehingga ada prioritas-prioritas yang mendapat vaksin,” ujarnya. Menurutnya, vaksinasi Covid-19 di Pontianak terhadap kelompok masyarakat yang berisiko seperti pelayan publik, TNI/Polri, guru dan lansia telah sesuai harapan.

Hal ini menjadi peluang, bahwa industri vaksin di Indonesia prospektif, karena pengembangan vaksin tidak akan berhenti produksi selain kebutuhan pandemi, juga untuk memenuhi kebutuhan Kesehatan masyarakat Indonesia yang berjumlah 270 juta jiwa. Untuk Kutai Barat saat ini vaksin masih dalam pengiriman dari provinsi, setelah datang nanti akan disalurkan keseluruh puskesmas yang berada di Kutai Barat. “Apabila masyarakat ingin vaksin bisa mendatangi layanan kesehatan terdekat,” pungkasnya. “Pemerintah tidak akan menjerumus masyarakatnya, jadi masyarakat Kutai Barat tidak perlu takut karena program vaksin ini pemerintah sudah melaksanakan berbagai tahapan dan program 3T yakni Testing, Tracing dan Treatment,” bebernya lebihl anjut. “Mengapa harus tenaga kesehatan karena mereka petugas yang bersentuhan langsung dengan para pasien yang memiliki resiko tinggi terpapar, dan kedua adalah sebagian pejabat daerah, hal ini untuk menjadi contoh bagi masyarakat,” jelasnya.